Kesehatan Mental pada Generasi Z

Assalamualaikum
Wr.Wb
Hallo sobat, sebelum lanjut lebih enak kalo
perkenalan dulu kan??? perkenalkan nama aku Nadha Fitri, biasa dipanggil Nadha. Aku
merupakan mahasiswa baru dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi,
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya. Disini aku akan menjelaskan
pentingnya gangguan kesehatan dimasa sekarang. Sehat sering kali dipersepsikan dari
segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya,
persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan
fisik. Padahal saat ini sudah ada asuransi kesehatan yang menawarkan
perlindungan terkait kesehatan mental. Dan dimasa sekarang banyak anak muda yang
mengalami gangguan mental, nah mengapa demikian?? Berdasarkan riset kesehatan
dasar yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka
prevalensi gangguan jiwa di Indonesia, meningkat secara signifikan dari 1,7% di
2013 menjadi 7% di 2018. Berbagai faktor bisa jadi pemicu meningkatnya masalah
mental seperti pekerjaan, hubungan dengan keluarga atau pasangan, serta ujian
hidup yang semakin besar. Selain itu teknologi juga turut berkontribusi
terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media
sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak
seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada
generasi muda.
Menurut pandangan
saya sendiri kesehatan mental merupakan suatu kondisi dimana batin manusia
mampu mempengaruhi perilaku dan emosi
yang ia alami. memang penyebabnya tidak terlihat secara fisik, akan
tetapi dapat dirasakan bagi pelaku dan orang terdekatnya dan berpengaruh dalam
kehidupan sehari-hari. Di era digital ini, cukup sulit memahami cara pandang Generasi
Z Dimana badan harus berproses secara cepat ketika perasaan dan kondisi hati
tidak saling beriringan. Penyakit mental yang sering
menghantui generasi Z mulai dari rasa takut, was-was, kepanikan, kepikiran
hal-hal yang belum terjadi, trauma, depresi, dan sebagainya.
Akibat dari perasaan yang tidak
tenang, banyak anak muda pergi ke psikiater untuk berkonsultasi dan sebagian
lainya berkumpul dengan komunitas untuk meringankan penderita gangguan
mental dengan cara saling berbagi sekaligus memberi dukungan.
Beberapa anak muda lainya, tidak
memiliki bantuan profesional kesehatan mental karena persoalan akses maupun
finasial. Mereka meluapkan rasa frustasi mereka di media sosial, semakin liar,
tak terkendali dan tanpa sadar menumpuk pengaruh negatif untuk diri sendiri
maupun orang lain.
Ada dua faktor yang memicu
gangguan mental seseorang, yaitu :
1. Faktor internal
Faktor internal lebih terkait pada hal – hal yang berasal
dari dalam diri sendiri, seperti: faktor genetik atau adanya riwayat pengidap
gangguan mental dalam keluarga, kekerasan dalam keluarga atau pelecehan
lainnya, ketidaksiapan bersaing karena tidak ada dukungan orang terdekat, tidak
terbiasa atau dibiasakan beradaptasi dilingkungan yang baru.
2. Factor eksternal
Faktor eksternal yang dimaksud seperti intimidasi,
kesenjangan sosial, bullying di media sosial, dan pengaruh lingkungan
yang buruk bagi tumbuh kembang Gen Z.
Dari kedua faktor tersebut,
pemerintah seharusnya mempunyai andil yang besar untuk memberikan solusi untuk
mengurai masalah-masalah mental dikalangan generasi penerus bangsa.
Gangguan
mental atau penyakit mental dapat diawali dengan beberapa gejala berikut ini,
antara lain:
- Berteriak
atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman.
- Delusi,
paranoia, atau halusinasi.
- Kehilangan
kemampuan untuk berkonsentrasi.
- Ketakutan,
kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui.
- Ketidakmampuan
untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari.
- Marah
berlebihan dan rentan melakukan kekerasan.
- Memiliki
pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan.
- Memiliki
pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
- Menarik diri
dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari.
Beberapa
upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan mental, yaitu:
- Melakukan
aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
- Membantu
orang lain dengan tulus.
- Memelihara
pikiran yang positif.
- Memiliki
kemampuan untuk mengatasi masalah.
- Mencari
bantuan profesional jika diperlukan.
- Menjaga
hubungan baik dengan orang lain.
- Menjaga
kecukupan tidur dan istirahat.
Maka dari itu,
jika sudah menunjukan gejala terganggunya kesehatan mental kamu langsung cari
bantuan atau minimal ketika kita ada masalah atau gangguan mental, kita
sebaiknya tersenyum pada diri sendiri. Atau bisa mencari psikolog lewat
aplikasi penyedia platform untuk para dokter di smartphone atau bisa ke komunitas yang bergerak di bidang
kesehatan mental, atau minimal berbagi cerita dengan orang yang benar – benar
kamu percayai.
Itulah penjelasan
singkat mengenai kesehatan mental di Generasi Z, semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum
Wr.Wvb

